Ceritakanlah sedihmu kepada sang malam. Dia akan menerangi jiwamu dengan cahaya bulannya. Menyejukan hatimu dengan dengan dinginnya. Dan membelaimu dengan anginnya. Dengarkanlah bisikannya. Dan malam, tak akan pernah mengkhianati mu.
Malam ini pun aku menceritakan segala keluh-kesah ku kepada malam. Tentang segala hal yang telah menimpa diriku hari ini. Tentang orang-orang yang telah mengkhianati ku selama ini. Kupandangi bulan yang bersinar gagah diatas sana. Seperti kaisar yang memerintah jutaan bintang untuk bersinar juga menerangi malam yang indah ini. Indah. Sangat indah malam ini. Sesekali angin malam berhembus. Kubiarkan itu membelai rambutku. Lalu kupejamkan mataku. Menikmati sejuknya malam ini. kulupakan sejenak semua masalahku. Kubiarkan diriku larut dalam dekapan malam. Membiarkannya menelanku semakin dalam. Lalu mulai kuingat kembali semua yang terjadi hari ini.
Terngiang sangat jelas kejadian pagi tadi. Bagaimana aku bertengkar dengan ayahku, kami saling berteriak satu sama lain, dan saling beradu ego kami yang tinggi. Tak ada satupun dari kami yang mau mengalah. Ayahku berkeras untuk memasukan ku ke sekolah tinggi ilmu kedokteran. Sedangkan aku juga berkeras ingin menuruti keinginan ku bersekolah di sekolah tinggi seni yang sangat aku idamkan. Bagi ayahku, bidang seni adalah bidang yang tidak berguna. Tidak jelas masa depannya. Tapi buatku, seni adalah bagian dari hidupku. Aku mencintai seni. Aku tak perduli bagaimana masa depanku nanti apakah jadi gembel atau jadi gelandangan. Yang terpenting aku bisa menggeluti bidang yang aku inginkan. Tapi ayahku tak perduli akan hal itu. Dia tetap berkeras untuk menyekolahkan ku di kedokteran. Karna baginya, kedokteran itu menjamin masa depanku terjaga. Seperti dirinya. Ya, ayahku adalah seorang dokter yang sukses. Dan dia menginginkan aku pun menjadi seperti dirinya, sukses, banyak uang, dan dihormati banyak orang. Tapi menurutku ayahku itu salah besar. Satu-satunya hal yang bisa menjamin masa depanku adalah diriku sendiri. Dan aku sangat yakin hal itu. Karena itulah kami bertengkar. Tak ada satupun yang mau mengalah. Mungkin bagi kami berdua, pendapat kami masing-masing adalah yang paling benar. Entahlah, tapi yang jelas pertengkaran itu telah membuatku lari dari rumah. Mungkin memang aku yang kalah dalam pertengkaran ego dengan ayahku. Tapi akupun tak ingin menuruti keinginannya begitu saja. karna itu aku lari dari rumah. Apa dengan begitu aku juga lari dari masalah??, ya, mungkin.
Sekarang aku berada disalah satu rumah sahabatku. Karena hanya tempat ini yang terpikirkan olehku untuk pelarian kali ini. Biarlah untuk malam ini aku bermalam disini. Untuk bagaimana besoknya, ku pikirkan nanti. Sudah lewat tengah malam. Sahabatku sudah terlelap dari tadi. Sedangkan aku masih setia menikmati malam ini. Dari balkon rumahnya, aku dapat leluasa memandang langit. Melihat keindahannya. Dan masih berharap bahwa malam akan memberi jawaban akan masalahku ini. Tanpa kusadari tiba-tiba disampingku telah ada seseorang. Seorang kakek berumur sekitar 65 tahunan. Seluruh rambutnya telah memutih. Dan tampak jelas keriput-keriput diseluruh tubuhnya. Kupandangi wajahnya, wajah nya yang cerah memancarkan kedamaian. Tampak bersinar ditengah gelapnya malam. Dia tersenyum.
”kakek siapa?”, tanyaku memulai percakapan
”kakek ini kakeknya Dani”
”koq saya baru lihat yaa..?” tanyaku lagi.
”kakek baru tiba dari kampung, nak”, jawabnya halus.
”ooh”
”kamu lari dari rumah nak? Kenapa ? ada masalah dengan keluarga?”, tanya kakek itu padaku. Aku kaget, kenapa dia bisa tahu. Padahal aku tidak memberitahukan hal ini pada siapapun selain kepada Dani.
“ koq kakek tahu?”, tanyaku heran.
Dia tidak menjawab. Dan tersenyum. ”ceritakanlah pada kakek..”
”hanya sedikit perbedaan pendapat dengan ayah, kek”, kataku lalu terdiam. Sebisa mungkin aku tidak ingin menceritakan ini pada nya atau orang lain lagi. Cukup sahabatku dan malam yang tahu.
”yaa sudah klo tidak ingin cerita. Kakek tidak akan memaksa kamu untuk menceritakan nya pada kakek”. Katanya. ”tapi apapun masalah mu, lari dari masalah tetap adalah sesuatu yang salah. itu mencerminkan dirimu sebagai seorang pengecut.”
”tapi kek,..”, bantahku. Tapi sebelum aku melanjutkan kata-kataku lebih jauh. Kakek itu memotong.
”anak muda, dengarkan kakek baik-baik. Orang tua itu memiliki perasaan alami untuk tidak ingin dibantah oleh anak-anaknya. Mereka selalu ingin kata-katanya dituruti. Itu sudah kodrat alam. Dan percayalah, mereka selalu akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.”
Aku terdiam mendengar apa yang diucapkannya. Kata-katanya langsung menghujam hatiku. Seakan aku terhipnotis oleh kata-katanya. Pandangan ku kosong. Aku tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu dia mulai bicara lagi.
”coba bayangkan nak, sewaktu kau kecil kau selalu dibahagiakan oleh kedua orang tuamu. Dimanjakan dengan menuruti apapun yang kamu inginkan. Dan sekarang, setelah kamu beranjak dewasa dan dapat berpikir dewasa juga. Kenapa kamu tidak mencoba membahagiakan orang tuamu?, tahukah kamu, hal yang paling membuat orang tua diseluruh dunia bahagia adalah melihat anaknya sukses, apa kamu tidak ingin membahagiakan orang tua mu?”, katanya semangat tapi tetap menunjukan kehalusan dalam bertutur kata. Kata-katanya kembali menghipnotis ku. Aku masih terdiam. Sekejap terlintas wajah kedua orang tuaku dan kenangan sewaktu aku masih kecil dibenak ku. Mereka tersenyum.
Kata-kata kakek itu menyadarkanku akan kesalahanku bersikap. Betapa jahatnya aku. Betapa tidak tahu terima kasihnya aku kepada orang tuaku. Aku jadi berpikir kembali. Apa yang telah aku lakukan terhadap orang tuaku selama ini. Pasti mereka kecewa berat terhadap anaknya yang tidak tidak tahu diri ini. Aku merasa orang yang paling jahat sedunia. aku hanya memikirkan diriku sendiri. Buruk sekali perangai ku. Aku terdiam sejenak. Menyesali apa yang telah aku lakukan tadi pagi. Sungguh, aku kecewa dengan diriku sendiri. Kupandangi langit seakan ingin mengadu padanya. Kututup wajahku dengan kedua tanganku menghadap langit. Seakan ingin minta maaf padanya. Salah. Bukan langit yang harus kumintai maaf. Karena aku tidak merasa mengkhianatinya. Tapi kepada kedua orang tuaku lah aku harus meminta maaf. Karena aku telah mengkhianati keduanya. Baiklah, sudah aku putuskan. Aku harus pulang besok. Dan bersimpuh kepada mereka atas semua kesalahan ku. Aku akan menuruti segala keinginannya. Termasuk sekolah di ilmu kedokteran. Aku tidak ingin egois lagi.
Lega rasanya aku telah menemukan jawaban atas keraguan ku. Aku serasa mendapat hidayah dari Tuhan melalui kakek itu. Aku harus berterima kasih padanya karena telah membuka pikiran ku yang lama terkunci. Tapi, kakek itu sudah tidak ada lagi disampingku. Kakek itu hilang. Cepat sekali dia menghilang. Sampai-sampai aku tidak menyadari kepergiannya. Kemanakah kakek itu ? sudahlah, mungkin dia sudah masuk duluan untuk pergi tidur. Pikirku. Dan malam pun semakin larut. Bulan yang dari tadi menemaniku pun telah menghilang dibalik awan yang hitam. Dingin menyeruak ke seluruh tubuhku. Aku telah terlalu lama menikmati malam. Sepertinya aku juga harus segera istirahat. Tidur mengistirahatkan tubuh dan pikiran ku yang telah bekerja keras untuk hari ini.
Pagi pun menjelang. Matahari telah menampakan dirinya. Menggantikan sang kaisar malam menyinari dunia. Cahayanya merangsek masuk kedalam kamar dari sela-sela jendela. Sehingga tampak seperti pedang-pedang cahaya yang seakan mampu menebas apa saja yang menghalangi. Burung-burung pun riang bernyanyi diluar sana. Sesekali terdengar samar-samar suara kokok ayam yang bangun kesiangan. Saling bersahutan. Pukul 6 pagi. Aku pun terbangun dari tidurku yang lelap. Nyenyak tanpa mimpi. Kulihat Dani masih terjaga dari tidurnya. Tak tega aku membangunkannya. Segera ku beranjak dari tidurku. Mengudek-udek isi tas ku untuk mencari handuk untuk mandi. Setelah itu sarapan. Lalu pamit untuk segera pulang.
Selesai mandi aku lihat Dani sudah bangun. Dia berdiri dibalkon memandangi sekitar rumahnya sambil merokok. Dasar kebiasaan buruk. Bangun tidur bukannya cuki muka atau gosok gigi. Dia malah merokok. Kalau saja orang tuanya tahu dia merokok, pasti orang tuanya marah besar. Maklum lah, dia belum boleh merokok sebelum berpenghasilan sendiri.
“loe udah mandi ?’, tanya nya padaku.
”udah lah, emangnya loe bangun tidur bukannya cuci muka dulu kek, gosok gigi dulu kek, atau apa kek, malah ngerokok”
”kan dikamar mandi ada loe..”, kilahnya.
”ah loe bisa aja, klo orang tua loe tau loe ngrokok gimana? Bisa abis loe...”, kata gw menasehati.
”makanya jangan sampai mereka tahu, gitu aja repot..”, katanya santai. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya bicara santai gitu. ”udah ah, yuk sarapan..”, katanya lagi seraya mematikan rokoknya yang masih panjang itu.
Di meja makan aku disambut baik oleh keluarganya. Aku dijamu dengan makanan-makanan yang enak dan mewah. Benar-benar Keluarga yang baik. Sedikitpun aku tidak merasa canggung sarapan dengan mereka semua. Karena aku pun telah sering menginap disini. Begitupun dengan Dani, dia juga sering menginap dirumahku. Tapi aku merasa ada yang kurang, ya tak sedikitpun aku lihat kakek nya Dani. Kakek yang semalam sesaat menemaniku di atas balkon. Kemanakah gerangan dirinya. Apakah masih tidur ? entahlah, padahal aku sangat ingin berterima kasih padanya. Karena dirinyalah aku dapat menyadari semua kesalahanku. Dia telah menyadarkanku dan membuka pikiranku yang selama ini terkunci rapat di puncak menara logika ku yang pendek.
Selesai makan aku kembali kekamar untuk bersiap pulang. Aku pun pamit kepada semua keluarganya Dani. Tapi tetap tidak aku lihat sosok kakek itu. Biarlah, kalaupun ia masih tidur, aku tidak ingin menggangunya. Setelah semua aku pamiti, aku pun segera pulang. Dani mengantarku sampai keluar gerbang rumahnya. Lalu iseng aku bertanya.
”Dan, kakek loe kemana ? koq dari tadi gw gak liat?”
”kakek gw yang mana?, tanya dia balik
”kakek loe yang dari kampung itu...”
”gw udah gak punya kakek lagi kali, kedua kakek gw udah meninggal semua. Terakhir, kakek dari ayah gw meninggal sebulan yang lalu...”, katanya sedih.
”ah serius loe?”, kataku kaget. Jelaslah aku kaget. Padahal baru semalam aku berbincang dengan kakeknya. Tapi koq kata Dani sudah meninggal?
”yah, ngapain sih gw boong. Emang kenapa sih? Koq kaget gitu...?”, katanya heran.
”aneh, semalem gw ngobrol sama dia koq. Dia dateng waktu gw lagi merenungin masalah gw di atas balkon. Karena dia juga loh sekarang gw mau pulang”
“ah, ngaco. Mimpi kali loe..”, katanya sambil tertawa. ”udah sekarang loe pulang, pasti orang tua loe lagi khawatir sekarang..”
Aku yakin sekali itu bukan mimpi. Seratus persen itu kenyataan. Aku ingat betul akan hal itu. Dan aku juga yakin Dani tidak berbohong. Apalagi bohong tentang kematian begitu. Tapi koq bisa?, ah benar-benar aneh. Aku jadi merinding mengingat hal itu. Jadi semalam sebenernya aku ngobrol sama-----. Ah sudahlah, toh aku malah bersyukur. Karena berkat hal itulah pikiran ku menjadi terbuka sekarang. Mungkin itu adalah jawaban malam. Jawaban atas masalah ku yang kuceritakan padanya. Aku benar-benar bersyukur. Dan dengan kejadian tersebut, aku pun menjadi semakin yakin, bahwa malam tak akan pernah mengkhianatiku.
Rabu, 25 Maret 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
