Rabu, 25 Maret 2009

Jawaban Malam

Ceritakanlah sedihmu kepada sang malam. Dia akan menerangi jiwamu dengan cahaya bulannya. Menyejukan hatimu dengan dengan dinginnya. Dan membelaimu dengan anginnya. Dengarkanlah bisikannya. Dan malam, tak akan pernah mengkhianati mu.
Malam ini pun aku menceritakan segala keluh-kesah ku kepada malam. Tentang segala hal yang telah menimpa diriku hari ini. Tentang orang-orang yang telah mengkhianati ku selama ini. Kupandangi bulan yang bersinar gagah diatas sana. Seperti kaisar yang memerintah jutaan bintang untuk bersinar juga menerangi malam yang indah ini. Indah. Sangat indah malam ini. Sesekali angin malam berhembus. Kubiarkan itu membelai rambutku. Lalu kupejamkan mataku. Menikmati sejuknya malam ini. kulupakan sejenak semua masalahku. Kubiarkan diriku larut dalam dekapan malam. Membiarkannya menelanku semakin dalam. Lalu mulai kuingat kembali semua yang terjadi hari ini.
Terngiang sangat jelas kejadian pagi tadi. Bagaimana aku bertengkar dengan ayahku, kami saling berteriak satu sama lain, dan saling beradu ego kami yang tinggi. Tak ada satupun dari kami yang mau mengalah. Ayahku berkeras untuk memasukan ku ke sekolah tinggi ilmu kedokteran. Sedangkan aku juga berkeras ingin menuruti keinginan ku bersekolah di sekolah tinggi seni yang sangat aku idamkan. Bagi ayahku, bidang seni adalah bidang yang tidak berguna. Tidak jelas masa depannya. Tapi buatku, seni adalah bagian dari hidupku. Aku mencintai seni. Aku tak perduli bagaimana masa depanku nanti apakah jadi gembel atau jadi gelandangan. Yang terpenting aku bisa menggeluti bidang yang aku inginkan. Tapi ayahku tak perduli akan hal itu. Dia tetap berkeras untuk menyekolahkan ku di kedokteran. Karna baginya, kedokteran itu menjamin masa depanku terjaga. Seperti dirinya. Ya, ayahku adalah seorang dokter yang sukses. Dan dia menginginkan aku pun menjadi seperti dirinya, sukses, banyak uang, dan dihormati banyak orang. Tapi menurutku ayahku itu salah besar. Satu-satunya hal yang bisa menjamin masa depanku adalah diriku sendiri. Dan aku sangat yakin hal itu. Karena itulah kami bertengkar. Tak ada satupun yang mau mengalah. Mungkin bagi kami berdua, pendapat kami masing-masing adalah yang paling benar. Entahlah, tapi yang jelas pertengkaran itu telah membuatku lari dari rumah. Mungkin memang aku yang kalah dalam pertengkaran ego dengan ayahku. Tapi akupun tak ingin menuruti keinginannya begitu saja. karna itu aku lari dari rumah. Apa dengan begitu aku juga lari dari masalah??, ya, mungkin.
Sekarang aku berada disalah satu rumah sahabatku. Karena hanya tempat ini yang terpikirkan olehku untuk pelarian kali ini. Biarlah untuk malam ini aku bermalam disini. Untuk bagaimana besoknya, ku pikirkan nanti. Sudah lewat tengah malam. Sahabatku sudah terlelap dari tadi. Sedangkan aku masih setia menikmati malam ini. Dari balkon rumahnya, aku dapat leluasa memandang langit. Melihat keindahannya. Dan masih berharap bahwa malam akan memberi jawaban akan masalahku ini. Tanpa kusadari tiba-tiba disampingku telah ada seseorang. Seorang kakek berumur sekitar 65 tahunan. Seluruh rambutnya telah memutih. Dan tampak jelas keriput-keriput diseluruh tubuhnya. Kupandangi wajahnya, wajah nya yang cerah memancarkan kedamaian. Tampak bersinar ditengah gelapnya malam. Dia tersenyum.


”kakek siapa?”, tanyaku memulai percakapan
”kakek ini kakeknya Dani”
”koq saya baru lihat yaa..?” tanyaku lagi.
”kakek baru tiba dari kampung, nak”, jawabnya halus.
”ooh”
”kamu lari dari rumah nak? Kenapa ? ada masalah dengan keluarga?”, tanya kakek itu padaku. Aku kaget, kenapa dia bisa tahu. Padahal aku tidak memberitahukan hal ini pada siapapun selain kepada Dani.
“ koq kakek tahu?”, tanyaku heran.
Dia tidak menjawab. Dan tersenyum. ”ceritakanlah pada kakek..”
”hanya sedikit perbedaan pendapat dengan ayah, kek”, kataku lalu terdiam. Sebisa mungkin aku tidak ingin menceritakan ini pada nya atau orang lain lagi. Cukup sahabatku dan malam yang tahu.
”yaa sudah klo tidak ingin cerita. Kakek tidak akan memaksa kamu untuk menceritakan nya pada kakek”. Katanya. ”tapi apapun masalah mu, lari dari masalah tetap adalah sesuatu yang salah. itu mencerminkan dirimu sebagai seorang pengecut.”
”tapi kek,..”, bantahku. Tapi sebelum aku melanjutkan kata-kataku lebih jauh. Kakek itu memotong.
”anak muda, dengarkan kakek baik-baik. Orang tua itu memiliki perasaan alami untuk tidak ingin dibantah oleh anak-anaknya. Mereka selalu ingin kata-katanya dituruti. Itu sudah kodrat alam. Dan percayalah, mereka selalu akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.”
Aku terdiam mendengar apa yang diucapkannya. Kata-katanya langsung menghujam hatiku. Seakan aku terhipnotis oleh kata-katanya. Pandangan ku kosong. Aku tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Lalu dia mulai bicara lagi.
”coba bayangkan nak, sewaktu kau kecil kau selalu dibahagiakan oleh kedua orang tuamu. Dimanjakan dengan menuruti apapun yang kamu inginkan. Dan sekarang, setelah kamu beranjak dewasa dan dapat berpikir dewasa juga. Kenapa kamu tidak mencoba membahagiakan orang tuamu?, tahukah kamu, hal yang paling membuat orang tua diseluruh dunia bahagia adalah melihat anaknya sukses, apa kamu tidak ingin membahagiakan orang tua mu?”, katanya semangat tapi tetap menunjukan kehalusan dalam bertutur kata. Kata-katanya kembali menghipnotis ku. Aku masih terdiam. Sekejap terlintas wajah kedua orang tuaku dan kenangan sewaktu aku masih kecil dibenak ku. Mereka tersenyum.
Kata-kata kakek itu menyadarkanku akan kesalahanku bersikap. Betapa jahatnya aku. Betapa tidak tahu terima kasihnya aku kepada orang tuaku. Aku jadi berpikir kembali. Apa yang telah aku lakukan terhadap orang tuaku selama ini. Pasti mereka kecewa berat terhadap anaknya yang tidak tidak tahu diri ini. Aku merasa orang yang paling jahat sedunia. aku hanya memikirkan diriku sendiri. Buruk sekali perangai ku. Aku terdiam sejenak. Menyesali apa yang telah aku lakukan tadi pagi. Sungguh, aku kecewa dengan diriku sendiri. Kupandangi langit seakan ingin mengadu padanya. Kututup wajahku dengan kedua tanganku menghadap langit. Seakan ingin minta maaf padanya. Salah. Bukan langit yang harus kumintai maaf. Karena aku tidak merasa mengkhianatinya. Tapi kepada kedua orang tuaku lah aku harus meminta maaf. Karena aku telah mengkhianati keduanya. Baiklah, sudah aku putuskan. Aku harus pulang besok. Dan bersimpuh kepada mereka atas semua kesalahan ku. Aku akan menuruti segala keinginannya. Termasuk sekolah di ilmu kedokteran. Aku tidak ingin egois lagi.
Lega rasanya aku telah menemukan jawaban atas keraguan ku. Aku serasa mendapat hidayah dari Tuhan melalui kakek itu. Aku harus berterima kasih padanya karena telah membuka pikiran ku yang lama terkunci. Tapi, kakek itu sudah tidak ada lagi disampingku. Kakek itu hilang. Cepat sekali dia menghilang. Sampai-sampai aku tidak menyadari kepergiannya. Kemanakah kakek itu ? sudahlah, mungkin dia sudah masuk duluan untuk pergi tidur. Pikirku. Dan malam pun semakin larut. Bulan yang dari tadi menemaniku pun telah menghilang dibalik awan yang hitam. Dingin menyeruak ke seluruh tubuhku. Aku telah terlalu lama menikmati malam. Sepertinya aku juga harus segera istirahat. Tidur mengistirahatkan tubuh dan pikiran ku yang telah bekerja keras untuk hari ini.
Pagi pun menjelang. Matahari telah menampakan dirinya. Menggantikan sang kaisar malam menyinari dunia. Cahayanya merangsek masuk kedalam kamar dari sela-sela jendela. Sehingga tampak seperti pedang-pedang cahaya yang seakan mampu menebas apa saja yang menghalangi. Burung-burung pun riang bernyanyi diluar sana. Sesekali terdengar samar-samar suara kokok ayam yang bangun kesiangan. Saling bersahutan. Pukul 6 pagi. Aku pun terbangun dari tidurku yang lelap. Nyenyak tanpa mimpi. Kulihat Dani masih terjaga dari tidurnya. Tak tega aku membangunkannya. Segera ku beranjak dari tidurku. Mengudek-udek isi tas ku untuk mencari handuk untuk mandi. Setelah itu sarapan. Lalu pamit untuk segera pulang.
Selesai mandi aku lihat Dani sudah bangun. Dia berdiri dibalkon memandangi sekitar rumahnya sambil merokok. Dasar kebiasaan buruk. Bangun tidur bukannya cuki muka atau gosok gigi. Dia malah merokok. Kalau saja orang tuanya tahu dia merokok, pasti orang tuanya marah besar. Maklum lah, dia belum boleh merokok sebelum berpenghasilan sendiri.
“loe udah mandi ?’, tanya nya padaku.
”udah lah, emangnya loe bangun tidur bukannya cuci muka dulu kek, gosok gigi dulu kek, atau apa kek, malah ngerokok”
”kan dikamar mandi ada loe..”, kilahnya.
”ah loe bisa aja, klo orang tua loe tau loe ngrokok gimana? Bisa abis loe...”, kata gw menasehati.
”makanya jangan sampai mereka tahu, gitu aja repot..”, katanya santai. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya bicara santai gitu. ”udah ah, yuk sarapan..”, katanya lagi seraya mematikan rokoknya yang masih panjang itu.
Di meja makan aku disambut baik oleh keluarganya. Aku dijamu dengan makanan-makanan yang enak dan mewah. Benar-benar Keluarga yang baik. Sedikitpun aku tidak merasa canggung sarapan dengan mereka semua. Karena aku pun telah sering menginap disini. Begitupun dengan Dani, dia juga sering menginap dirumahku. Tapi aku merasa ada yang kurang, ya tak sedikitpun aku lihat kakek nya Dani. Kakek yang semalam sesaat menemaniku di atas balkon. Kemanakah gerangan dirinya. Apakah masih tidur ? entahlah, padahal aku sangat ingin berterima kasih padanya. Karena dirinyalah aku dapat menyadari semua kesalahanku. Dia telah menyadarkanku dan membuka pikiranku yang selama ini terkunci rapat di puncak menara logika ku yang pendek.
Selesai makan aku kembali kekamar untuk bersiap pulang. Aku pun pamit kepada semua keluarganya Dani. Tapi tetap tidak aku lihat sosok kakek itu. Biarlah, kalaupun ia masih tidur, aku tidak ingin menggangunya. Setelah semua aku pamiti, aku pun segera pulang. Dani mengantarku sampai keluar gerbang rumahnya. Lalu iseng aku bertanya.
”Dan, kakek loe kemana ? koq dari tadi gw gak liat?”
”kakek gw yang mana?, tanya dia balik
”kakek loe yang dari kampung itu...”
”gw udah gak punya kakek lagi kali, kedua kakek gw udah meninggal semua. Terakhir, kakek dari ayah gw meninggal sebulan yang lalu...”, katanya sedih.
”ah serius loe?”, kataku kaget. Jelaslah aku kaget. Padahal baru semalam aku berbincang dengan kakeknya. Tapi koq kata Dani sudah meninggal?
”yah, ngapain sih gw boong. Emang kenapa sih? Koq kaget gitu...?”, katanya heran.
”aneh, semalem gw ngobrol sama dia koq. Dia dateng waktu gw lagi merenungin masalah gw di atas balkon. Karena dia juga loh sekarang gw mau pulang”
“ah, ngaco. Mimpi kali loe..”, katanya sambil tertawa. ”udah sekarang loe pulang, pasti orang tua loe lagi khawatir sekarang..”
Aku yakin sekali itu bukan mimpi. Seratus persen itu kenyataan. Aku ingat betul akan hal itu. Dan aku juga yakin Dani tidak berbohong. Apalagi bohong tentang kematian begitu. Tapi koq bisa?, ah benar-benar aneh. Aku jadi merinding mengingat hal itu. Jadi semalam sebenernya aku ngobrol sama-----. Ah sudahlah, toh aku malah bersyukur. Karena berkat hal itulah pikiran ku menjadi terbuka sekarang. Mungkin itu adalah jawaban malam. Jawaban atas masalah ku yang kuceritakan padanya. Aku benar-benar bersyukur. Dan dengan kejadian tersebut, aku pun menjadi semakin yakin, bahwa malam tak akan pernah mengkhianatiku.

Rabu, 04 Februari 2009

Valentine's Day ???

Suatu ketika gw berdebat dengan teman gw tentang masalah Hari Valentine. Sebagai seorang muslim dan seorang Timur, patut tidak kita merayakan Hari Valentine ?. gw berada di pihak yang Pro, dan teman gw berada dipihak yang Kontra. Perdebatan pun dimulai dengan pertanyaan gw,

“ gw mau Tanya gimana pendapat loe, buat loe pribadi, Valentine pantes gak dirayain ?”

Temen gw jawab : “menurut gw, gak perlu dirayain..karena setiap hari bisa jadi hari kasih sayang..”

“trus kalo Hari Ibu gimana ??. setiap tanggal 21 Desember kita merayakannya. Setiap hari itu Kita menganggap ibu kita sebagai pahlawan, Kita manjain mereka, kasih ucapan sayang ke mereka.., tapi kenapa Cuma tanggal 21 ? bukan nya itu udah jadi kewajiban kita setiap hari ? “

Temen gw jawab : “ Ok, kalau hari ibu gw yakin semua insan agama tahu ibu itu wajib di hormatin dan ada sejarah yang pasti..tapi Valentine ?semua agama belum tentu merayakan itu, karena itu bukan hal yang wajib, itu hanya menjadi suatu kebiasaan orang-orang barat, dan orang-orang timur Cuma ikut-ikutan. Walaupun gw tahu valentine ada sejarahnya, tapi gak semua orang tahu. Tapi loe boleh Tanya kesetiap orang dimana aja pasti mereka tahu hari ibu, sedangkan Valentine? Nothing.”

“oke, Hari Ibu kan Cuma contoh, masih banyak hari-hari laennya..Hari Guru, Hari Aids, hari Buruh..ya kan? Kita selalu merayakan hari-hari itu semua..
Buat gw hari-hari semacam itu merupakan Cuma sebuah symbol. Symbol yang mengingatkan kita bahwa banyak unsur-unsur penting yang membentuk kehidupan ini.. salah satu nya cinta dan kasih sayang..trus kenapa kita gak patut merayakannya ? apa Cuma gak berasal dari budaya kita ? “

Temen gw jawab : “ iya loe betul, apa yang loe bilang symbol, ada symbol yang diresmiin pemerintah seperti hari-hari yang loe sebutin itu. Tapi valentine, apa diresmikan sama pemerintah ?”

“hari Valentine kayanya gak perlu diresmiin deh..karena seluruh dunia sudah tau, karena itu udah jadi tradisi dan budaya..seperti lebaran aja, memangnya Idul Fitri itu diresmiin pemerintah ? ( gw gak ada maksud buat menyamakan Hari Valentine dengan Idul Fitri ya, jelas itu sangat berbeda..gw Cuma kasih contoh )
Klo gw pribadi sebenernya, sebagai seorang muslim, nurani gw tuh menolak hari valentine, tapi logika gw gak sependapat.”

Temen gw jawab : ”iya loe betul, sekarang yang gw maksud valentine bisa dirayain apa enggak tergantung orangnya. Karena pertama, orang yang ngerayain valentine mungkin dia lagi senang, karena mungkin dia baru dapet kebahagiaan, kaya pacar baru. Coba loe piker orang-orang yang lagi dapt cobaan atau lagi kehilangan, apa mereka ngerayain valentine? Boro-boro, mikirin dirinya aja udah capek. Tapi kalo lebaran atau natal, itu udah jadi kewajiban untuk dirayakan. Klo buat gw pribadi, valentine itu gak perlu dirayaain…
Tapi gw bingung ngeliat banyak orang-orang yang masih ngerayain tanpa ngeliat sejarah dunianya”.

“oke loe bener, tapi seenggaknya kita bisa berbagi kebahagian dengan orang-orang yang kurang beruntung. Yang pengen gw tekankan adalah, kenapa kita gak harus ngerayain nya? padahal kita bisa berbagi kebahagian dan cinta pada hari itu..
iya gw tahu sejarahnya hari valentine, memang menyakitkan buat orang islam. Tapi lagi lagi loe bilang, loe gak ngerayain karena bukan budaya kita…tapi gimana kalo kasusnya, klo ada hari lain yang juga memperingati hari kasih sayang, asli budaya kita dan namanya bukan valentine….sah untuk dirayakan??”

temen gw jawab : “enggak, karena gak ada suatu tragedy yang melegenda, dan yang gw maksud disini, gw gak menyetujui hal tsb karena budaya yang berbeda banget sama kita..loe tau gw tau sejarah valentine, tp gw yakin gak semua orang tau..karena ketidak tahuan itulah makanya banyak yang menganggap lumrah. Ini hanya perbedaan budaya yang masuk ke Indonesia dan sama orang Indonesia diikat dengan budaya, yang bagi gw sedikit salah…dan lagi-lagi lari ke kebiasaan oleh orang barat, iya kan?”

“iya gw juga tau ini misi Negara-negara barat untuk membaratkan timur..
Tapi tadi loe bilang ’budaya yang sedikit salah’..salah dimana nya coba?..hari itu kan hari yang penuh cinta dan kasih sayang..mungkin aja dengan valentine kita bisa menyebarkan virus perdamaian, yang akhir-akhir ini perang semakin gencar”

Temen gw jawab : ”iya itu dia, tapi timur sekarang hampir menjadi barat..karena timur mengadopsi sebagian kehidupannya dari budaya barat..dan juga banyak orang-orang barat yang menyebarkan budaya nya di timur...”

”itu wajar, karena sebagian besar negara-negara barat itu negara maju, dan SDM nya berkualitas..coba sebaliknya? Yang ada easternisasi ke barat..”

Temen gw jawab : ”ya karena bagi gw timur terlalu cepat terpengaruh dan banyak berkiblat kebarat, mungkin karena barat lebih maju..tapi kenapa gak bisa mencontoh negara-negara maju yang ada di timur? Kaya Arab saudi dan malaysia..”

”manusia itu kan cenderung lebih mencontoh kebiasaan yang menurut mereka menarik dan asik buat di tiru..itu manusiawi ”

Temen gw jawab : ” jadi loe bilang kalau budaya arab dan malaysia itu kurang menarik untuk dijadikan contoh ?”

”iyalah, apa loe pikir cara berpakaian orang Arab itu menarik dan asik buat kita ? faktor alam juga sih..
Yaa gak semua budaya barat itu jelek, contohnya valentine, gw gak anggep itu budaya yang jelek koq...”




Gw tahu budaya valentine itu disebarkan oleh orang barat, dan gw gak tahu apa alasannya mereka menyebarkan budaya itu, mungkin ada maksud lain dibelakangnya. Tapi entahlah, gw harap gw gak pernah tahu alasan itu. Cukup gw tahu hari velentine sebagai hari berbagi kasih sayang. Cukup itu aja.

Yap gitulah perdebatan gw dengan temen gw tentang valentine. Pada akhirnya kita bisa menentukan bagaimana seharusnya bersikap. Kesimpulannya, Temen gw nolak valentine karena perbedaan budaya, dan gw, menurut gw gak ada salahnya kita merayakan untuk berbagi cinta dan kasih sayang. Gw gak pernah menganggap pendapat gw yang paling benar, dan juga gak pernah nganggep pendapat temen gw itu salah. Disini gw Cuma mengeluarkan apa yang sbenernya selama ini gw pikirin. Gw harus tahu alasan yang kongkrit kenapa gw pro dengan valentine dan kenapa gw kontra dengan valentine, dan itu harus punya argumentasi yang jelas, gak sekedar ikut-ikutan. Merayakan valentine karena orang disekitar merayakan, menolak valentine karena orang-orang disekitar menolak. Intinya, jangan mudah terpengaruh dengan orang, buat pilihan loe sendiri !

Kamis, 08 Januari 2009

Untukmu Palestina

Untukmu saudara-saudara ku yang ada disana.
kaum yang terdzolimi oleh para kafirun laknat
kapankah penderitaan kau kan berakhir?
hati kami ngilu melihat kalian terlunta-lunta di medan perang..
rudal-rudal balistik yang menghantam tempat kalian bernaung...
peluru-peluru tajam yang menghujam tubuh kalian, melesat dari lubang senjata yang menganga...
runtuhan puing-puing yang tanpa ampun menindih tubuh kalian yang suci...

Rintihan kesakitan...
tangisan kehilangan...
teriakan minta pertolongan...
seakan tak mempunyai arti dimata para yahudi itu...

Kami disini menjerit...
kami disini menangis, kawannn...


Berjuanglah para prajurit jihad palestine...
hanya doa yang dapat kami selalu haturkan...
semoga Allah memberimu tempat terindah disurganya...
semoga Allah senantiasa menjaga dirimu, keluargamu, dan negaramu...selalu...

Selasa, 06 Januari 2009

Dream Or Cry

Created, 26 Des 2008


Malam memang tak akan selamanya berbintang. Dan siang pun tak kan selamanya berawan. Begitupun dengan hidup ini, kita tak akan selamanya mengalami kesenangan melulu, atau kesedihan terus menerus. Kita harus tahu, kenapa Tuhan merahasiakan jalan hidup kita, mungkin Tuhan menginginkan kita untuk selalu siap menghadapi segala yang diberikan-Nya.

Tak pernah muncul dalam benak gw bahwa gw akan mendapatkan beasiswa dari universitas. Gw akan belajar bahasa Inggris di Amerika selama 8 minggu. Dan itu gw dapetin Cuma karena iseng-iseng ngikutin sayembara yang diadakan universitas. Pas gw tanya ke pihak penyelenggara tentang pertimbangan apa yang menyebabkan gw terpilih, mereka menjawab, ”kemampuan bahasa inggris kamu diatas rata-rata”. Ya mungkin mereka benar, gw sendiri ngerasa klo bahasa inggris gw tuh lancar, tapi masa Cuma itu sih?, gw gak habis pikir padahal nilai akademik gw aja ancur sangat. Asal kalian tahu, IP gw aja Cuma 2,6, masa gw mau dikirim ke Amrik dengan IP segitu?.

Tapi dibalik keheranan gw, gw memendam kesenangan yang luar biasa. Impian gw bakal terkabul, impian gw keliling dunia mendekati terwujud. Gw uda mulai ngebayangin impian gw itu. Dimulai dari Amerika, negara-negara lainnya segera bakal gw datengin. Huff, tuhkan gw uda mulai menghayal lagi. Gak sampe satu bulan lagi gw harus berangkat. Tanggal 12 maret gw akan take-off meninggalkan Indonesia. Gw harus mempersiapkan segalanya dengan sebaik-baiknya. Daftar barang yang bakal gw bawa pun uda gw buat. Tapi gw kesana gak sendirian, ada satu lagi mahasiswa yang juga terpilih. Namanya Anggie, orang nya cantik banget dan dia juga luar biasa pinter. Mahasiswi hukum angkatan 2006, beda 2 tahun lebih tua dari gw. Gak salah klo dia terpilih dapet beasiswa. Klo menurut gw, dia itu manusia terindah ciptaan-Nya. Gak berlebihan sih, emang banyak orang yang beranggapan sama kaya gw.

Seminggu jelang hari keberangkatan gw ke Amerika. Gw dapat kabar buruk. Orang tua gw satu-satunya, Nyokap yang paling gw sayang masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kumat. Langsung aja gw cabut dari tempat kost menuju rumah sakit. Disana semua anggota keluarga besar gw kumpul. Dokter bilang keadaan nyokap gw belum stabil, dan dia pun belum tahu kapan sadar nya. Gw bingung bukan kepalang, gimana enggak?, seminggu lagi gw bakal terbang ke Amerika dan sekarang nyokap gw terbaring di rumah sakit dengan keadaan yang gak jelas. Terus mana bisa gw ninggalin nyokap gw dengan keadaan kaya gini. Terbaring lemas gak berdaya, sedangkan gw bakal bersenang-senang nikmatin mimpi gw.

Ditengah kesedihan gw, gw masih terus berpikir keras mana yang harus gw pilih. Dampingin nyokap gw dirumah sakit atau pergi mengejar impian gw di Amerika. Kedua pilihan itu bikin gw hampir gila, gw luar biasa bingung. Gw gak tahu harus berbuat apa, berpikir pun gw gak sanggup. Masih dalam keadaan bingung gw raih hp gw berharap menemukan satu nama yang bisa gw ajak curhat. Gw teringat satu nama, Anggie. Dan mulai gw telpon partner gw di Amerika itu, berharap dia mau dengerin cerita gw dan kasih masukan. Diluar dugaan, yang tadinya gw kira Anggie orang nya sombong, ternyata orangnya baik banget. Dia mau dengerin cerita gw dan kasih masukan buat gw. Dia berhasil menghibur gw dan dia juga berhasil meyakinkan gw untuk tetap pergi ke Amerika. Menurut dia kesempatan untuk meraih impian itu mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup, dan jika gw gak memanfaatkan kesempatan itu, impian gw bakal berakhir sebagai mimpi belaka. Dan dia juga menyinggung soal nyokap gw, bahwa klo gw yakin nyokap gw bakal baek-baek aja, maka semuanya bakal baek-baek aja, gitu katanya. Suaranya yang lembut tapi tegas itu seakan membius gw untuk meng”iya”kan semua kata-kata dan menuruti semua saran nya. Gw gak berdaya menghadapi suaranya itu.

Malam sebelum hari keberangkatan gw, gw dah mantap memutuskan untuk pergi. Persiapan udah selesai sepenuhnya. Gw pun udah pamit kesemua temen-temen gw, list barang yang bakal gw beli untuk oleh-oleh buat mereka pun dah gw pegang. Tapi entah kenapa gw masih ngerasa ada yang kurang. Ada yang nge”ganjal” gw untuk pergi kesana. Dan perasaan itu pun masih ada sampai keesokannya. Seperti gw enggak dibolehin untuk berangkat. Sebelum berangkat mungkin gw harus kerumah sakit dulu untuk pamitan sama nyokap gw. Mudah-mudahan setelah gw pamitan, perasaan itu akan hilang dan gw berangkat ke Amerika tanpa beban yang mengganjal hati gw.

Pagi itu adalah pagi yang paling bersemangat dalam hidup gw. Biasanya pagi-pagi seperti itu kalian bakal ngeliat gw masih malas-malasan dengan mata merah karena kurang tidur. Tapi pagi ini beda, karena hari itu gw akan pergi ke Amerika. Setelah semua persiapan selesai 100% gw berangkat. Tapi sebelum gw ke bandara, gw harus ke rumah sakit dulu untuk pamitan sama nyokap gw.

Sesampainya dirumah sakit, hati gw miris ngeliat keadaan nyokap gw yang gak ada perubahan. Di kamar tempat nyokap gw dirawat Cuma ada tante gw. Melihat kedatangan gw, tante gw pun keluar dari kamar seolah mengerti bahwa gw pengen berdua aja sama nyokap gw. Sesaat gw pandangi wajah nyokap gw, pucat pasi tanpa ekspresi. Seraya menggenggam tangan nyokap gw yang dingin, gw hela nafas panjang dan gw mulai pamitan,
”Mama, Putra pergi dulu yaa..,Putra akan pergi menjemput mimpi putra di tempat yang jauh. Mama disini baik-baik yahh, cepet sembuh. Sepulang dari sana nanti putra akan bikin mama bangga karena telah melahirkan Putra”
Selesai pamit perasaan gw mulai sedikit lega. Tante gw pun dah masuk ke kamar lagi.
”tante, aku berangkat dulu ya. Klo nanti mama sadar, tolong kasih surat ini ke mama yah”, pinta gw seraya menyerahkan amplop berisi surat itu
”kamu yakin put, mau berangkat?”, tanya tante gw mencoba mayakinkan gw lagi
”yakin tante”, jawab gw singkat.
”klo udah sampe sana kabarin ke sini yah”, pinta tante gw
”iya tante”, Gw pun berlalu meninggalkan tante gw. Sambil terus berharap bahwa gw gak akan menyesali keputusan gw ini.



Dibandara gw liat Anggie dan seorang pendamping yang bakal ngelepas kepergian kita berdua udah nungguin gw dari tadi. Gw pun langsung menghampiri mereka. Mereka gak marah karena ketelatan gw. Karena sebelumnya gw udah ngomong ke Anggie klo gw bakal kerumah sakit dulu sebelum ke bandara. Lalu Si pendamping pun langsung ngajak kita berangkat ke pesawat dan bertanya, ”udah pada siap kan? Perjalanan kalian bakal panjang lho..”, kita berdua pun hanya menganggukan kepala tanda mengerti. Tiba-tiba dari hp gw terdengar suara nada pesan diterima dari dalam tas kecil gw. Langsung gw ambil hp gw dan gw baca, ternyata Cuma pesan hati-hati dijalan dari temen kampus gw. Setelah membalas pesan tersebut, sambil berlari-lari kecil hp gw masukan kedalam saku belakang celana gw. Yang tanpa gw sadari klo tempat itu bukan tempat seharusnya gw nyimpen hape.

Detik, menit, jam berlalu tanpa terasa, akhirnya gw sampe juga di Amerika. Disana seorang pemandu sudah menunggu kami. Ternyata ia juga seorang warga negara Indonesia yang sudah lama menetap di sini. Namanya Anna, Seorang wanita muda berumur sekitar 28 tahun, berperawakan sedang dengan potongan rambut lurus sebahu menambah kesan bahwa ia seorang wanita karir. Setelah perbincangan singkat diantara kami, akhirnya diketahui bahwa dia seorang dosen yang mengajar tentang kebudayaan-kebudayaan, khususnya kebudayaan Indonesia di Universitas yang akan kami masuki nanti.

Selama 8 minggu kedepan, gw dan Anggie akan tinggal di sebuah apartemen yang terletak dipusat kota Washington. Sementara sang pemandu apartement nya tepat disebelah apartemen kami.

Selesai beres-beres merapikan barang, gw teringat harus nelpon ke Indonesia untuk kabarin keluarga gw disana. Tapi gw gak menemukan hp gw dimanapun. Gw tanya Anggie pun dia sama sekali gak tahu. Anggie nyuruh gw untuk inget-inget lagi kapan terakhir gw pakai hp gw. Setelahnya gw inget, terakhir gw baca sms itu di bandara di Indonesia. Trus setelah itu gw masukin ke saku belakang celana gw. Dan gw teringat lagi klo celana gw tuh GAK ADA saku belakangnya !
”Kenapa gw bisa sebegitu bodoh dan cerobohnya sih? Sampai bisa ngilangin hal yang penting begitu. Klo gak ada hp gimana gw bisa hubungin keluarga gw di Indonesia ?”
”Loe bisa pake hp gw klo loe mau..?”, ujar Anggie nawarin seraya menyodorkan hp nya ke gw
”makasih Gie, tapi masalahnya...”, jawab gw
”kenapa?, loe gak usah ngerasa gak enak gitu sama gw”
”bukan gitu, masalahnya gw gak hapal nomor hp nyokap gw maupun keluarga gw yang lain”, jawab gw. ”semua nomernya ada di hp gw”
”nomer telepon rumah?”, tanya Anggie lagi
”gw gak punya telpon rumah”, jawab gw sedih
”kirim surat”?
”gw gak tahu kode pos nya”, jawab gw lagi
”duuh loe itu lemah banget sih sama angka”, kata Anggie nyindir gw. Dia pun berlalu meninggalkan gw.




Gw hanya tertunduk malu mendengar pernyataan Anggie barusan. Yah emang gw akuin sih, gw tuh lemah banget sama hal yang berhubungan dengan angka. Sejak smp nilai Matematika sama Ipa gw gak pernah lebih dari 5. Makanya pas waktu SMA gw masuk IPS dan pas kuliah gw masuk Komunikasi, yang notabene nya sedikit berhubungan dengan ilmu Eksakta.

Gw mencoba melupakan perihal kehilangan hp tadi. Gw hanya mencoba berpikiran positif bahwa keluarga gw disana akan baik-baik aja, dan keluarga gw disana bakal mikir hal yang sama tentang gw. Gw harus fokus disini, karena tujuan gw ada disini untuk belajar, gw gak mau sia-sia in beasiswa ini.
☻☻☻☻☻

Waktu yang kadang pandai menipu begitu cepat berlalu. Enggak terasa gw udah nyelesaiin masa studi gw selama 8 minggu disini. Dan besok lusa kita udah harus kembali lagi ke Indonesia. Sekarang gw ngerasa mendapatkan suntikan tenaga baru untuk menyelesaikan kuliah gw di Indonesia. Banyak banget pelajaran yang gw dapet dari pengalaman ini. gw bisa berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia disini. gw bisa dapet banyak hal baru yang sebelumnya gak terpikir diotak gw. Dan Gw bisa bawa banyak cerita buat temen-temen gw di Indonesia. Rasanya gak sabar pengen cepet-cepet balik dan menceritakan semuanya. 2 hari dari sekarang gw udah harus berada di Indonesia.
☻☻☻☻☻

Matahari dari ufuk Timur mulai manampakan wujudnya. Cahayanya menembus jendela pesawat dan menerpa wajah gw. Suara bising mesin pesawat membangunkan gw. Gw lihat Anggie sedang berdiri tepat disamping kursi sedang merapihkan bajunya..
”udah bangun Put?, baru gw pengen bangunin”
”iya, udah sampe Indonesia ?”, tanya gw dengan suara yang agak serak.
”udah , pules banget sih tidurnya. Sampe-sampe pesawat mau mendarat aja loe gak sadar...”
Ketika gw pengen beranjak dari kursi, gw lihat sabuk pengaman gw sudah terpasang erat melingkari pinggang gw. Padahal seinget gw, sebelum tidur gw gak ngerasa pasang sabuk pengaman ini. masa sabuknya kepasang otomatis?. Mungkin Anggie yang pasangin sabuk pengaman nya. Pikir gw. Gw hanya tersenyum membayangkan hal tersebut. Sementara Anggie udah berlalu meninggalkan gw.

Gw dan Anggie berpisah di bandara. Dia dijemput oleh keluarganya. Senengnya. Sedangkan gw, kepulangan gw aja keluarga gw gak ada yang tahu. Mana ada yang jemput gw?. Bayangin 8 minggu gw lost contact dengan keluarga gw. Gak sekalipun gw denger kabar tentang mereka disana. Begitu pun sebaliknya. Gw kangen banget sama mereka.
Tas gw berasa lebih berat dibanding saat gw berangkat. Maklum, penuh dengan oleh-oleh buat keluarga dan temen-temen gw. Gw akan bikin surprise buat mereka.

bersambung cuuy...

Cinta Tanpa Syarat

Malam itu hujan turun membasahi bumi dengan derasnya. Sesekali suara gemuruh petir terdengar samar dari balik awan yang hitam. 2 jam berlalu semenjak tetesan pertama menyentuh bumi. Tak ada tanda-tanda hujan akan berakhir. Dari dalam kamar ku hanya bisa memandangi tetes demi tetes air yang membasahi jalan depan rumahku. Mungkin hujan baru akan berhenti tengah malam nanti, Pikirku. Tiba-tiba mataku tertuju pada sosok yang berjalan pelan tanpa payung. Aku merasa sosok itu tidak asing dimataku. Sekejap aku teringat satu nama, Gita.

Dengan sigap aku keluar rumah seraya menyambar payung biru yang tergantung dibalik pintu kamar ku. Setengah berlari kucoba menghampiri sosok tadi.

”Gita !!”, panggilku. Setengah kaget dia menoleh dengan perlahan kearahku. Sesaat kupandangi tubuhnya. Basah kuyub dan wajahnya terlihat sayu dan sembab. Kelihatannya dia sedang menangis.

”putra ?, kok loe disini..?”, tanya dia dengan suara yang lirih. Suaranya kurang jelas karena bercampur dengan suara gemericik hujan. Terlihat jelas kalau dia sedang bersedih.

”harusnya gw yang tanya. Kan emang rumah gw disekitar sini”, jawabku. ”loe kenapa hujan-hujanan? Loe kenapa?lagi nangis ya?”

Dia terdiam tak menjawab pertanyaan ku. Ia hanya tertunduk dalam dengan pandangan yang kosong. Terlintas tanya dalam benakku. Kejadian apa yang menimpanya sehingga ia harus hujan-hujanan sambil menangis seperti ini. seakan langit turut bersimpati atas kesedihannya sehingga menurunkan hujan selebat ini?. dia masih diam. Cukup lama kutunggu jawabannya. Tapi tak kunjung keluar dari mulutnya.

”yaudah, sekarang loe kerumah gw dulu. Keringin badan loe. Gak baik ujan-ujanan gini, nanti loe sakit”

Dia mengangguk pelan menyetujui ajakan ku. Kuraih tangannya lalu ku genggam seraya menuntunnya masuk kedalam rumahku.

”tunggu ya gw cariin baju gw dulu, siapa tau ada yang cocok buat loe”

Dia masih diam tak menjawab. Cukup lama aku mencari akhirnya kudapatkan yang pas untuknya. Selembar T-shirt dengan celana celana training warna merah. Tak lupa sebuah sweater untuk melindunginya dari dingin yang mencengkram.

” Nih bajunya. Loe bisa ganti baju di kamar mandi”, kataku seraya menyerahkan pakaian itu kepadanya. ” kamar mandinya disana. Sementara loe ganti baju, gw akan bikin teh anget buat loe”.


Dengan suara berat dia memulai ceritanya. Cerita kenapa dia bisa sampai kaya gini. Hatiku ngilu mendengar ceritanya. Aku terdiam menatap wajahnya dengan tatapan kosong. Tapi jauh didalam lika-liku otakku sedang terjadi badai yang luar biasa. Pikiran ku serasa diaduk-aduk oleh mobil pengaduk semen. Hati dan jiwa ku serasa meleleh. Semua persendian ku sejenak tak berfungsi. Itulah yang terjadi kepadaku setelah mendengar cerita yang dialami cewek didepan ku ini. aku tak tahu harus berkata dan berbuat apa setelah dia selesai menceritakan semuanya. Aku tak pernah habis pikir. Cewek cantik dengan tubuhnya yang kecil ini ternyata menanggung beban yang amat berat. Ia mengalami kejadian yang sangat tragis. Mungkin jika 2 jam lagi dia dibiarkan sendirian, ia akan mengambil keputusan bodoh untuk bunuh diri. Pikirku.

5 menit berlalu dengan kesunyian. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Aku speechless. Sementara gita masih dalam keadaan trauma berat. Tiba-tiba suara gedoran pintu memecahkan kebisuan diruangan ini. Dengan cepat ku beranjak dari tempatku duduk untuk segera membuka pintu. Terlihat seorang pria berkumis dan berkulit coklat berdiri didepanku. Badannya besar dengan tinggi kira-kira 5 centi diatasku. Tanpa banyak basa-basi dia masuk melewatiku dan menghampiri Gita.

”anak kurang ajar !! ngapain kamu disini?, bukannya pulang. Bisa nya Cuma nyusahin orang tua aja kamu !?!”, hardiknya marah.

Lalu, PLAAAAK!! Tamparan keras mendarat dipipi gita. Dia tersungkur. Aku ingin menolongnya, tapi baru selangkah beranjak tapi tiba-tiba pria itu menunjuk kearah ku dan berkata, ”kamu !!jangan ikut campur urusan ku”.

Aku diam terpaku. Tampak jelas bekas tamparan itu dipipinya. Merah padam. Terlihat jelas karena kontras dengan kulirnya yang putih. Aku hanya bisa terdiam melihat Gita dimaki-maki ayahnya. Tak ada yang dapat aku lakukan.

”ayaah...”, lirih Gita seraya memegangi pipinya yang sakit. Tangisnya pun kembali pecah. Bulir-bulir air mata turun membasahi pipi hingga dagunya. Lalu jatuh menetes tepat diujung dagunya yang indah itu. Ingin rasanya aku menjadi bagian dari kesedihannya itu. Meminjamkan dadaku untuk tempat dia bersandar dan menangis. Memeluknya. Melindunginya dari kejamnya keadaan yang mendera.

Pria itu meraih lengan gita dan menariknya keluar dari rumahku. Tampak jelas kalau Gita tidak mau mengikuti keinginan pria itu. Ia hanya bisa menangis dan pasrah pada keadaan. Ingin aku menolongnya. Tapi apa daya, aku tak punya kuasa atasnya. Aku menyesali diriku ini yang tak dapat berbuat apa-apa untuknya. Gita menoleh kerahku dengan tatapan penuh harap. Harapan agar aku mau menolongnya. Lalu ia hilang dibalik pintu mobil yang terparkir didepan rumahku.

”Gita, gua gak akan ngebiarin loe kaya gini terus..”

bersambung cuyy...

my self, my dream, my life

ini tentang aku..

aku 'sang pemimpi'...

aku ingin hidup seperti karang. berdiri congkak melawan gelombang kehidupan. bertahan dari setiap hujam bantaman ombak cobaan. berkawan dengan ribuan pasir hamparan. merangkul mimpi hewan-hewan kecil yang berlindung di dalamnya..

aku ingin hidup seperti elang. terbang bebas melintas alam. menentang tusukan angin tantangan. menembus batas-batas awan. melayang bebas menghirup kebebasan...

aku ingin hidup dengan caraku. keluar dari cangkang yang mengikatku. menjemput mimpi yang kugantung dibulan. menembus batas ruang dan waktu yang kadang pandai menipu. menjelajah dunia sampai ke sudut terdalam. membelah bumi seperti garis khatulistiwa yang membentang..
menghirup kebebasan dipuncak menara Eiffel.
terjun bebas dari puncak Angel Falls.
tertidur pulas dibawah pohon Sakura.
meluncur deras di Pegunungan Alpen.
dan Bersujud tawadhu dipadang Mash'ar..
aku ingin hidup yang menggetarkan. memacu adrenalin sampai titik didih. walau panas yang membakar. dingin yang mencengkram. angin yang menghantam. bahaya yang menghadang. dan pilihan yang menantang. Aku Ingin Hidup Dengan Mimpiku !

aku ingin hidup seperti puzzle. menyusun satu persatu bagian hidupku yang terpencar. berkeliling dunia mencari bagian puzzle hidupku.
menjelajah benua Amerika dari utara sampai selatan.
dari skandinavia sampai Afrika.
dari tembok Cina sampai Selandia.
menyusunnya. merangkainya. menjadikan bagian itu lengkap. hingga terlihat sebuah gambaran. gambaran tentang arti diriku, mimpiku. dan hidupku...