Dengan sigap aku keluar rumah seraya menyambar payung biru yang tergantung dibalik pintu kamar ku. Setengah berlari kucoba menghampiri sosok tadi.
”Gita !!”, panggilku. Setengah kaget dia menoleh dengan perlahan kearahku. Sesaat kupandangi tubuhnya. Basah kuyub dan wajahnya terlihat sayu dan sembab. Kelihatannya dia sedang menangis.
”putra ?, kok loe disini..?”, tanya dia dengan suara yang lirih. Suaranya kurang jelas karena bercampur dengan suara gemericik hujan. Terlihat jelas kalau dia sedang bersedih.
”harusnya gw yang tanya. Kan emang rumah gw disekitar sini”, jawabku. ”loe kenapa hujan-hujanan? Loe kenapa?lagi nangis ya?”
Dia terdiam tak menjawab pertanyaan ku. Ia hanya tertunduk dalam dengan pandangan yang kosong. Terlintas tanya dalam benakku. Kejadian apa yang menimpanya sehingga ia harus hujan-hujanan sambil menangis seperti ini. seakan langit turut bersimpati atas kesedihannya sehingga menurunkan hujan selebat ini?. dia masih diam. Cukup lama kutunggu jawabannya. Tapi tak kunjung keluar dari mulutnya.
”yaudah, sekarang loe kerumah gw dulu. Keringin badan loe. Gak baik ujan-ujanan gini, nanti loe sakit”
Dia mengangguk pelan menyetujui ajakan ku. Kuraih tangannya lalu ku genggam seraya menuntunnya masuk kedalam rumahku.
”tunggu ya gw cariin baju gw dulu, siapa tau ada yang cocok buat loe”
Dia masih diam tak menjawab. Cukup lama aku mencari akhirnya kudapatkan yang pas untuknya. Selembar T-shirt dengan celana celana training warna merah. Tak lupa sebuah sweater untuk melindunginya dari dingin yang mencengkram.
” Nih bajunya. Loe bisa ganti baju di kamar mandi”, kataku seraya menyerahkan pakaian itu kepadanya. ” kamar mandinya disana. Sementara loe ganti baju, gw akan bikin teh anget buat loe”.
Dengan suara berat dia memulai ceritanya. Cerita kenapa dia bisa sampai kaya gini. Hatiku ngilu mendengar ceritanya. Aku terdiam menatap wajahnya dengan tatapan kosong. Tapi jauh didalam lika-liku otakku sedang terjadi badai yang luar biasa. Pikiran ku serasa diaduk-aduk oleh mobil pengaduk semen. Hati dan jiwa ku serasa meleleh. Semua persendian ku sejenak tak berfungsi. Itulah yang terjadi kepadaku setelah mendengar cerita yang dialami cewek didepan ku ini. aku tak tahu harus berkata dan berbuat apa setelah dia selesai menceritakan semuanya. Aku tak pernah habis pikir. Cewek cantik dengan tubuhnya yang kecil ini ternyata menanggung beban yang amat berat. Ia mengalami kejadian yang sangat tragis. Mungkin jika 2 jam lagi dia dibiarkan sendirian, ia akan mengambil keputusan bodoh untuk bunuh diri. Pikirku.
5 menit berlalu dengan kesunyian. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami berdua. Aku speechless. Sementara gita masih dalam keadaan trauma berat. Tiba-tiba suara gedoran pintu memecahkan kebisuan diruangan ini. Dengan cepat ku beranjak dari tempatku duduk untuk segera membuka pintu. Terlihat seorang pria berkumis dan berkulit coklat berdiri didepanku. Badannya besar dengan tinggi kira-kira 5 centi diatasku. Tanpa banyak basa-basi dia masuk melewatiku dan menghampiri Gita.
”anak kurang ajar !! ngapain kamu disini?, bukannya pulang. Bisa nya Cuma nyusahin orang tua aja kamu !?!”, hardiknya marah.
Lalu, PLAAAAK!! Tamparan keras mendarat dipipi gita. Dia tersungkur. Aku ingin menolongnya, tapi baru selangkah beranjak tapi tiba-tiba pria itu menunjuk kearah ku dan berkata, ”kamu !!jangan ikut campur urusan ku”.
Aku diam terpaku. Tampak jelas bekas tamparan itu dipipinya. Merah padam. Terlihat jelas karena kontras dengan kulirnya yang putih. Aku hanya bisa terdiam melihat Gita dimaki-maki ayahnya. Tak ada yang dapat aku lakukan.
”ayaah...”, lirih Gita seraya memegangi pipinya yang sakit. Tangisnya pun kembali pecah. Bulir-bulir air mata turun membasahi pipi hingga dagunya. Lalu jatuh menetes tepat diujung dagunya yang indah itu. Ingin rasanya aku menjadi bagian dari kesedihannya itu. Meminjamkan dadaku untuk tempat dia bersandar dan menangis. Memeluknya. Melindunginya dari kejamnya keadaan yang mendera.
Pria itu meraih lengan gita dan menariknya keluar dari rumahku. Tampak jelas kalau Gita tidak mau mengikuti keinginan pria itu. Ia hanya bisa menangis dan pasrah pada keadaan. Ingin aku menolongnya. Tapi apa daya, aku tak punya kuasa atasnya. Aku menyesali diriku ini yang tak dapat berbuat apa-apa untuknya. Gita menoleh kerahku dengan tatapan penuh harap. Harapan agar aku mau menolongnya. Lalu ia hilang dibalik pintu mobil yang terparkir didepan rumahku.
”Gita, gua gak akan ngebiarin loe kaya gini terus..”
bersambung cuyy...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar